Mobil Mensesneg Terobos Busway

JAKARTA - Komisioner Ombudsman Alvin Lie mempublikasikan penampakan mobil dinas berpelat RI 81 yang masuk ke busway lewat akun twitter miliknya. Mensesneg Pratikno menyerahkan hal tersebut kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Kamu tanya ke Gubernur DKI," kata Pratikno di Gedung Utama Kemensetneg, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (25/7/2016).

Saat ditanya apakah ada sanksi bagi pemilik mobil tersebut, Pratikno juga menyerahkannya kepada Gubernur DKI. Dalam cuitannya, Alvin Lie menyebut mobil itu adalah milik Staf Khusus Presiden Jokowi.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah Kadishub DKI Andri Yansyah menyebut mobil Stafsus Presiden tetap tak boleh melintas di busway. Mobil dinas yang diperbolehkan melintasi busway adalah milik menteri.

Belum ada konfirmasi siapa stafsus yang menggunakan pelat nomor RI 81. Untuk diketahui, Presiden Jokowi memiliki 6 staf khusus yakni Sukardi Rinakit, Ari Dwipayana, Lennis Kogoya, Johan Budi SP, Gories Mere dan Diaz Hendropriyono. 

Ahok Berpotensi Jadi Tersangka Suap Reklamasi Teluk Jakarta

Ahok
JAKARTA - KPK kembali memeriksa enam saksi perkara suap pembahasan rancangan peraturan daerah reklamasi Teluk Jakarta, Jumat (24/6/2016). Dua dari enam orang tersebut merupakan staf pribadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta.

Mereka adalah Jahja Djokdja, staf Mohamad Sangaji alias Ongen; dan Max Pattiwael, staf Prasetyo Edy Marsudi. "Diperiksa sebagai saksi untuk MSN (Sanusi)," kata Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati Iskak di Jakarta.

Sedangkan empat orang lainnya adalah pegawai perusahaan swasta. Salah satunya karyawan PT Agung Sedayu Grup, Heliawati. Lainnya adalah Feri Hendriyanto, karyawan PT Kedaung Propertindo; Divisi Legal PT Wahana Auto Ekamarga, Musa; dan Trian Subekhi

Pemeriksaan saksi ini merupakan pemeriksaan lanjutan untuk perkara suap yang diduga melibatkan Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi. Dalam perkara ini, Sanusi yang sudah berstatus tersangka diduga menerima duit Rp 2 miliar dari pengembang untuk memuluskan pembahasan raperda reklamasi.

Sempat beredar kabar bahwa duit itu tak hanya diterima Sanusi. KPK juga mencium dugaan adanya pemberian dari pihak lain.

Kemarin, pemberi suap dalam perkara ini, bos Agung Podomoro, Ariesman Widjaja, dan karyawannya, Trinanda Prihantoro, sudah menjalani sidang dakwaan. Meski ditangkap lebih dulu, kini tinggal Sanusi yang belum maju ke pengadilan. Tidak tertutup kemungkinan Ahok jadi tersangka.(hda/tmp)

Calon Kapolri Tito Bakal Terganjal Kasus Labora Sitorus


JAKARTA - Komisaris Jenderal Tito Karnavian, yang dicalonkan jadi Kapolri membantah pernah menerima uang dari Aiptu Labora Sitorus saat ia menjabat Kepala Polda Papua. Tapi Tito mengetahui bahwa memang ada upaya menyuap dia.

Tito memaparkan, dalam pemeriksaan, ada catatan pemberian uang dari Labora Sitorus ke Kepala Polda Papua, yaitu pada Maret, Agustus, dan November 2013. Adapun Tito mulai menjabat sejak September. Labora adalah polisi pemilik rekening Rp 1,2 triliun.

"Maret dan Agustus saya tidak tahu," katanya dalam uji kelayakan di gedung DPR, Jakarta, Kamis, 23 Juni 2016. Sedangkan untuk aliran uang pada November, Tito menyatakan telah melakukan pemeriksaan.

Diketahui saat itu Kepala Polres Sorong meminjam uang kepada Labora untuk digunakan sebagai suap kepada Tito. "Dia meminjamnya untuk menjadi Kapolres Raja Ampat," ucapnya.

Tapi Tito membantah bila dikatakan uang tersebut sampai kepadanya. Menurut dia, ada aturan yang melarang kepala polres mana pun memberikan uang kepada kepala polda. "Sebab, kalau saya diberi, saya tidak bisa memecatnya," tuturnya.

Menurut Tito, saat itu uang tidak mengalir ke dia lantaran Kepala Polres Sorong tidak berani dan memutuskan mengembalikan uang tersebut kepada Labora. "Tapi kami mengetahuinya dan memberikan sanksi," ucapnya.

Sanksi tersebut berupa pemecatan sebagai kepala polres dan menjadikannya staf biasa di Polda Papua. "Kalau uang itu sampai ke saya, pasti dia sudah jadi Kepala Polres Raja Ampat," kata Tito. (hda/tmp)

Batik Air dan Garuda Ajukan Extra Flight Jelang Lebaran

BATAM – Arus mudik lebaran mulai terpantau padat di Hang Nadim Batam. Mengantisipasi lonjakan tersebut pengelola akan mendirikan posko keamanan dan pemantauan penumpang.

Posko tersebut didirikan untuk menjaga keamanan. Rencananya akan didirikan pada tanggal 24 Juni hingga 12 Juli mendatang.

Selain itu juga akan didirikan posko pemantauan langsung yang diletakan di dalam terminal. Posko ini berfungsi memantau kepadatan, kegiatan hingga keamanan penumpang di dalam bandara.

“Kami juga akan bekerja sama dengan kepolisian bandara, AVSEC dan keamanan bandara lainnya. Jumlah personilnya juga akan ditambah,” kata Suwarso, Kabag Umum Hang Nadim Batam.

Masih kata Suwarso sejauh ini baru ada dua maskapai akan melakukan extra flight atau menambah jumlah rute penerbangan, yakni Garuda Airline dan Batik Air.

Sedangkan untuk harga tiket akan dinaikan sesuai batas kewajaran. (hda)

sumber: kepriupdate.com